Racauan Entah-Kau-Sebut-Apa Pada Dini Hari yang Sunyi
Malam ini, entah angin apa yang membawaku iseng membuka-buka folder chat di email. Jadilah aku membaca lagi percakapan-percakapan dengan seorang kawan. Seorang perempuan yang serupa angin di bulan Juni yang panas: keburu pergi sebelum kita merasakan kesejukannya.
Nyatanya dia memang seprti itu…
Sebelum kami benar-benar dekat, dia telah mengucap salam perpisahan pada dini hari yang takkan kulupa. Dia telah berpamitan bahkan sebelum sempat masuk ke dalam “rumah”-ku. Alasannya: dia harus pulang. Kembali ke dalam selimut hangatnya yang jauh di sana. Jauh…
Kini aku merasakan rindu yang terpotong. Rindu yang keburu ditebas sebelum ia sempat tumbuh dan berbuah. Aku merasakan ada yang mengganjal mengingat aku pernah merasa dekat dengannya. Persetan dia tak merasakan hal yang sama denganku. Toh kami telah sama-sama berpamitan dengan disaksikan oleh log chat yang selalu siap merekam setiap kata yang terucap.
Malam ini udara terasa panas sekali. Padahal hujan baru saja kelar di beranda sana. Di dalam aku menunggu pagi dengan kesuntukanku. Dan aku masih belum tahu alasanku meracau seperti anak kecil tentangnya. Entahlah. Semoga dia tidak membacanya..
Utang!
Sebetulnya agak memalukan memposting hal semacam ini, tapi tak apalah. Ini saya lakukan biar kelak ketika saya buka kembali tumblr dan ternyata belum melunasi utang, itulah saat ketika saya akan harus salto dari monas sambil bilang: saya pecundang.
1. Utang menulis cerita wayang pada Aulia Dieta Cordella
2. utang menulis essai pada Prima Sulistya (ini utang lama dan belum terbayarkan!)
3. utang banyak tulisan pada Nor Islafatun (ini juga utang lama dan semoga masih bisa mendapat maaf dari Islah karena terlambat sekali membayarnya)n
Demikian sekilas info. Untuk headline news mudik terbaru silakan ikuti berita menjelang lebaran tahun depan. Sekian. Terima kasih dan salam olahraga!
Maaf
Untuk semua luka, selalu tersedia jalan untuk penyembuhan. Pada setiap kealpaan, selalu terbuka pintu untuk sebuah perbaikan.
Manusia pasti pernah berkubang dengan kesalahan, mencoba mentas, kemudian kembali kotor dalam kesalahan yang sama.
Bahkan seekor keledai sekalipun mempunyai asa kedua untuk bangun sebelum terjatuh pada kesempatan berikutnya.
***
Pernahkah kau rasakan bagaimana sebuah kata dapat mengubah segalanya?
Maaf memang tidak menyembuhkan luka yang mulai usang. Tetapi ia menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih terang.
Maaf bukanlah kunci atas pintu hati yang terlanjur rusak berantakan. Namun ia dapat membuka jendela kelegaan yang sempat tertahan.
Mengapa kau terus berlari di siang yang memberimu peluang untuk melihat indahnya dunia? Adakah kautemukan kenikmatan dari gelapnya persembunyianmu?
***
Hey, jangan palingkan mukamu, sayang.
(ditulis juga di http://redemptionsoldier.blogspot.com/2012/08/maaf.html)
Ode Untuk Kawan
Malam hari adalah waktu terbaik untuk memelihara rindu. Karena di malam hari yang tenang dan sunyi, selalu ada bayang-bayang yang melintas dan cerita-cerita yang mulai lindap perlahan berkisah kembali. Tentang orang-orang yang kausayang, tentang orang-orang yang kan selalu kaukenang. Malam ini pun demikian. Saya, setelah berkirim beberapa pesan singkat dengan Zahara, menjadi melankolis seperti biasa.
Sepertinya sudah lama sekali sejak kali terakhir saya berbincang-bincang dengan Zahara. Juga kawan-kawan lain: Akbar, Duwi, Febri, Mufti, dan Novi. Saya rindu. Dan terus terang saya mulai ragu, masih adakah kesempatan untuk bercanda sambil menikmati burger dan kentang goreng. Atau merayakan ulang tahun salah seseorang dari kita. Juga karaoke dan makan malam bersama. Mungkin mereka merasakan hal yang sama. Mungkin pula tidak. Tapi yang jelas saya masih ingin duduk di satu bangku bersama mereka. Tertawa dan bahagia mengobrolkan cinta dan cita-cita. Entah kapan.
Oh. Sebaiknya saya kembali mengurai sedikit cerita bersama mereka. Untuk sekadar mengobati rindu. Untuk sekadar mengenang beberapa hal yang telah lalu. Oh. Tuhan, jagalah mereka. Selalu.
Baiklah. Saya akan memulai ode ini dari Akbar Adi Nugroho. Bukan berarti dia yang paling dekat. Tetapi karena saya ingin menceritakan kawan-kawan saya urut abjad. Iya. Saya justru tak pernah terlalu dekat dengan Akbar. Bahkan mungkin Akbar pun hanya menganggap saya sebagai salah seorang dari tiga puluhan teman sekelas di tingkat duanya. Akbar terlalu pendiam untuk ukuran anak yang gemar bermain dan mencari teman baru macam ia. Namun, beberapa kali saya berhasil merepotkan Akbar dengan meminta bantuannya. Juga ketika saya mengusik kehidupan Akbar yang damai. Saya yakin Akbar merasa terganggu ketika saya berkunjung ke kosnya dan membuat berantakan isi kamarnya. Tetapi, ketika akun facebook mulai berubah nama di luar kewajaran, sepertinya itu bukan hasil pekerjaan saya :P
Untuk Akbar:
Bar, sudah berapa kali kamu bersyukur sejak menerima pengumuman penempatan instansi? Iya, bersyukur Bar. Meskipun jarang mengikuti pengajian yang diadakan oleh bapak kos sehabis Subuh, tapi aku harap kamu tahu bahwa berkah itu sungguh nyata adanya. Ah. Beruntung sekali ya kamu (ini lama-lama berasa gay banget pake “aku-kamu” segala, tapi tak apalah), tak perlu merasakan hidup jauh dari keluarga terlalu lama.
Tetapi, walau belum ada rencana hidup di perantauan, tetaplah belajar menjadi dewasa. Aku yakin kamu yang sudah pernah bepergian jauh tanpa orang tua (meski hanya ke Bromo) dan mahir memasak sendiri (meski hanya memasak nasi) tak butuh waktu lama untuk tumbuh. Kamu hanya perlu mengurangi sensitivitasmu terhadap orang lain. Sifat orang berbeda-beda. Santailah menghadapi siapapun agar kamu tak perlu lagi memelihara sifat moodymu di dunia kerja kelak. Aku yakin kok, satu meja di kantor baru OJK sudah tersedia untukmu. Kecup jauh dari Purwokerto :*
Lalu ada Duwi Susilo, pribadi dengan pembawaan yang tenang (tapi diam-diam kebelet buang air). Dari Duwi saya belajar cara memimpin tanpa harus menggurui. Dari Duwi saya belajar membangun semangat untuk berangkat kuliah. Dari Duwi saya belajar bagaimana seharusnya bersikap dan bertutur kata. Untuk hal terakhir, seringkali Duwi terpaksa menasihati saya untuk berbicara sopan ketika ia mulai terganggu dengan umpatan dan ucapan-ucapan kasar yang saya lontarkan. Tetapi, sepertinya saya masih akan tidak disukai oleh Duwi. Hingga sekarang, saya belum mampu tersenyum dan marah seadanya saja.
Untuk Duwi:
Wi, terima kasih untuk setahun yang penuh pelajaran di 2 L. Untuk pengalaman-pengalaman yang kaubagi. Untuk nasihat nasihat-nasihat yang kauberi. Aku belajar banyak darimu, dari semangat yang tak pernah luntur dari wajahmu. Jujur Wi, aku malu melihatmu yang tak pernah lelah berjuang meski kau berasal dari daerah terpelosok sekalipun. (no hard feeling ya, haha :P)
Aku ingat satu kalimat, entah dari siapa: jika kau melihat seseorang yang lebih tua darimu, pastilah amalannya jauh lebih banyak daripadamu. Ini selalu aku ingat. Dan sepertinya sangat tepat ketika aku melihatmu. Kamu yang rajin beribadah, yang tekun berdakwah di jalan-Nya. Aku belum bisa sepertimu. Dan aku masih terus belajar dengan melihat punggungmu. Tapi Wi, sesekali aku pikir kamu perlu loh buat tengok kanan-kirimu. Lihat sekeliling dan nanti pasti kamu akan sadar kalau shalat dan dzikirmu belum cukup. Dunia ini tak hanya berisi ibadah-ibadah Habluminallah kan ya Wi? Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat, bergaulah dengan kawan-kawanmu, siapapun itu. Membaurlah tanpa harus mengurangi kadar ibadahmu kepada-Nya. Bukankah lelah badan sehabis futsal yang diniatkan untuk ibadah tak kalah nikmat dengan rasa ngantuk setelah berdzikir sepanjang malam? Iya Wi, kita belum tahu di mana kelak kita ditempatkan. Jika kita supel pada semua orang—apapun agamanya, bagaimanapun budayanya—Insya Allah kita tetap aman di manapun kita berada.
Ada lagi, Febrilian Swastanto. Merupakan orang pertama yang saya tuju ketika saya menginginkan informasi-informasi yang belum saya ketahui. Ia, dengan kemampuan—juga kemauan—untuk membaca dan mencari berita baru telah banyak membantu saya. Menurut saya, ia pantas menjadi penyidik yang baik, juga penjaga pos TPT yang cekatan. Ah, apapun itu, saya yakin Febri tetap selalu ceria dan tertawa seperti ketika ia memperoleh tiket konser Justin Bieber dengan mengikuti kuis yang pasti terlalu mudah baginya.
Untuk Febri:
Hoy, aku masih belum puas keliling pameran buku yang cuma diikuti sedikit penerbit tempo hari! Aku juga masih ingin ke Salihara, ke Obsat, atau ke tempat diskusi di manapun itu. Kamu pasti tahu kan tempatnya? Jika kesempatan masih mengizinkan, bolehlah kamu ajak aku ke sana. Seusainya, kita masih bisa mampir ke sevel terdekat untuk rehat sejenak. Atau kalau kamu malas ke tempat-tempat serius, main bilyar bareng anak-anak juga tak apa. Sewaktu DTSD nanti bisa nggak ya? Terima kasih buat bantuan-bantuannya ya. Kamu yang selalu cepat memperoleh informasi baru telah banyak menolongku yang haus akan berita. Eh, sesekali jangan Cuma jadi silent-reader lah. Tulis blog atau ngetwit tentang ilmu yang baru kamu peroleh dong. Aku yakin banyak yang akan merasa tertolong kok. Memberi ilmu yang bermanfaat kan termasuk amal jariyah :D
Feb, meskipun di antara yang aku sebut di sini sepertinya kamu yang paling jarang ikut kumpul, tapi itu tidak mengurangi bobot ucapan terima kasihku tadi. Yang jelas, kalau ada info diskon buku atau baju-baju distro yang masih mungkin kita jangkau, segera sms aku. Iya, sms. Aku masih belum beli blackberry. Maklum, aku tak punya kemampuan memenangkan kuis sepertimu, haha. Adios, pengunjung tetap sebelah RRI Solo!
Selanjutnya adalah Mufti Kandaga Abidin. Awal-awal mengenal Mufti, saya mengira ia adalah aktivis yang cekatan. Perkiraan saya tidak salah. Mufti selalu terlihat di manapun ia dibutuhkan. Dan itu sangat bermanfaat bagi organisasi-organisasi yang ia ikuti. Akan tetapi, perkiraan saya tak sepenuhnya benar. Ketika suatu saat dosen (Pak Basri Musri kalau saya tak salah ingat) memberi tugas kelompok yang beranggotakan dua orang per kelompoknya, dan saya Alhamdulillah satu kelompok bersama Mufti, jadilah kelompok kami mengumpulkan tugas paling terakhir. Mulur beberapa hari (atau pekan?) dari tenggat waktu yang diberikan. Haha.
Untuk Mufti:
Muf, jangan lupakan anak-anak 2L ya! Kamu yang mudah punya kawan baru pasti suatu saat akan mengambil jarak dengan kawan lama. Namun bukan berarti memutuskan komunikasi. Jangan sombong karena kata guru ngajiku itu tak baik. Selain itu, cobalah kamu melabeli seorang-dua kawanmu dengan cap sahabat. Aku lupa siapa tokoh yang mengatakan ini, tapi aku pernah baca: seorang sahabat yang mau menemani dukamu jauh lebih baik daripada seribu kawan yang hanya ada di saat sukamu. Makanya jangan mudah meninggalkan temanmu meski kamu merasa tak akan berurusan lagi dengannya. Suatu saat, ketika kamu sedih misalnya, kamu akan membutuhkan orang itu.
Selain itu, aku rasa kamu perlu belajar tekun. Apalagi sekarang instansimu membutuhkan tingkat keseriusan yang lumayan tinggi. Kamu sudah cukup giat dan pintar (terbukti dari riwayatmu: kelas aksel, punya IP lumayan meski tak pernah terlihat belajar, juga lolos USM STAN dua kali), namun apalah artinya jika kamu tidak konsisten? Sekarang belajar DSLR, eh besoknya entah kamu ke manakan minat itu. Fokuslah pada satu hal terlebih dahulu. Baru setelah hal tadi kamu peroleh, kamu boleh alihkan perhatianmu pada yang lain. Oh iya, nasihat ini berlaku juga dalam percintaan loh! Muehehehehe.
Tinggal dua perempuan yang belum saya sapa. Dari Novia Munggaran dulu. Mungkin tak ada anak yang mampu melebihi kehebohan yang dibuat oleh Novi. Ia, pada suatu ketika, membuat dunia pewayangan gempar ketika menjadi artis kaskus dengan menari dan menyanyi lipsync bersama Shinta selalu berisik dan tidak pernah bisa menyikapi sesuatu dengan biasa saja. Novi mudah panik. Apalagi nangis. Haha. Namun meski begitu, Novi adalah sosok yang bisa diandalkan. Ketika kawan-kawan yang notabene adalah anak kos kelaparan, ia seringkali menjadi penyelamat dengan membawa kue brownies yang ia beli selagi ia pulang. Delicious!
Buat Novi:
Nop! Nggak usah diet-diet segala lah. Kalo gendut mah gendut aja. Tapi kalo ditakdirkan langsing pasti ya langsing kok. Haha. Bercanda. Kalimat tadi punya pesan tersirat: nikmati saja apa yang ada di depanmu tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan. Hidup terlalu singkat untuk dilewatkan dengan kesedihan dan ketakutan. Tapi, ketika masalah yang kamu hadapi terasa terlalu berat, jangan khawatir. Kamu selalu punya kawan yang mau mendengarkan kok. Apalagi sekarang kamu punya pacar yang bisa diandalkan. Tentu.
Nop, masa mahasiswa kita telah berakhir. Aku merasa menua dengan cepat. Tapi aku rasa kita belum terlalu tua kok buat nonton film rame-rame lagi, atau makan malam di D’Cost lagi, atau nongkrong di warkop lagi. Santai tjoi, dewasa itu kepastian, tua itu pilihan! Meskipun beda instansi dan kota, janji ya bakal ada waktu buat kumpul sama anak-anak lagi? Kamu masih punya utang main sekali loh yang gagal dilaksanakan waktu psikotes kemarin. Juga utang ajak aku jalan ke octopus :P
Akhirnya sampai juga giliran manusia terakhir yang saya tulis di tulisan ini, yaitu Zahara Nur Auliya. Ketika saya tak tahu apalagi yang saya perbuat—terutama saat masih berada di kosan—tak ada tempat terbaik untuk diganggu selain Zahara. Tinggal login ke yahoo messenger dan Buzz! saja Zahara, maka ia akan menjawab (meskipun sering ia bersembunyi dengan invisible). Dan, untuk gangguan-gangguan yang telah saya berikan, sudah selayaknya saya berterima kasih pada Zahara. Well… Merci beaucoup, maddame!
Buat Zahara:
Zahara! Zahara! Zahara!
Wah, mau ngomong apa ya sama kamu Za? Sudah terlalu banyak sih yang kita omongkan ya? Dari yang serius sampe yang serius lagi sudah tuntas kita kupas. Kalau mau ditulis pun mungkin bakal membutuhkan satu tulisan khusus lagi. Tapi tak ada salahnya aku mengucapkan salam sekali lagi di tulisan ini kan?
Za, masih gelisah soal jodoh? Kuharap tidak. Kuharap kamu sudah yakin dengan ketetapan Allah. Kuharap kamu masih ingat bahwa wanita baik-baik itu untuk lelaki yang baik. Karena itu, tetaplah berbuat baik tanpa menimbang untung-ruginya. Tak usahlah mendengar kata-kata motivasi dari Mario Teguh. Kamu sudah cukup dewasa untuk bangkit sendiri tiap kali kamu jatuh, tiap kali kamu bimbang dengan langkah yang kamu tempuh. Yakinlah bahwa suatu saat kamu akan paham bahwa keraguanmu selama ini tak berdasar. Maka, ketika waktu itu tiba, buzz! aku ya :D
Sudah? Iya sudah. Saya tak tahu lagi apa yang ingin saya tulis di sini. Hari makin beranjak malam dan mesin presensi sidik jari sudah menanti tak sabar untuk saya tekan esok hari. Rasanya tulisan yang terlalu panjang ini saya cukupkan saja sampai di sini.
Sebelumnya, saya meminta maaf dengan sangat jika pesan-pesan di atas terkesan menggurui. Saya hanya merasa rindu. Rindu pada kebersamaan kita. Saya hanya ingin mendokumentasikan beberapa kesan saya pada kalian yang saya sebut sahabat. saya hanya ingin bila suatu saat kalian membaca ini kembali, kalian akan ingat bahwa kita pernah bersama di suatu masa. Masa yang indah, masa yang pantas dikenang ketika kita menapaki tangga kita masing-masing. Iya, sekarang kita sudah berpisah. Kita sudah harus berjalan sendiri-sendiri lagi. Seperti sebelum kita bertemu dahulu. Pesan saya yang terakhir: jaga diri kalian baik-baik hingga suatu saat kita bisa bertemu kembali pada kesempatan yang jauh lebih indah.
Dan sebagai penutup, izinkan saya mengutip ucapan seorang teman: kawan-kawan datang dan pergi. Pertemuan dan perpisahan silih berganti. Semoga kita tidak. Selamat malam!

*ditulis di Purwokerto, 18 April 2012: 00.01
