Persimpangan

Kegetiran itu kubaca pada laman facebookmu, suatu ketika: pada sebuah persimpangan, seseorang harus memilih, apakah hendak menanti hingga ia bisa meneruskan perjalanan, atau segera berbelok dan memutuskan untuk berganti tujuan.

Waktu itu aku dan kamu telah memutuskan untuk saling setia. Walaupun akhirnya aku pindah tugas dan kita menjadi karib dengan jarak, kita sudah bersepakat akan selalu memelihara cinta. Aku percaya, kamu juga, bahwa aku takkan pergi untuk selamanya. Keberangkatanku pada saat kamu mengantarku ke bandara aku gadai dengan selarik puisi dari penyair kesukaanku.

Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Keteguhan yang kamu tunjukkan membuatku yakin kamu akan selalu menungguku kembali. Untuk sementara kubiarkan jarak menjadi sebuah jeda, sebuah perhentian agar kita beristirahat dalam perjalanan. Toh selama didekatkan oleh perasaan, penantian masing-masing dari kita cuma simbol yang semakin mengekalkan arti sebuah pertemuan.

Tapi kalimat yang kamu muntahkan melalui media sosialmu itu seakan menyadarkanku, bahwa ada masa ketika seseorang akan lelah dan tidak punya pilihan lain kecuali menyerah. Aku paham bahwa kamu mulai ragu dan merasa dibiarkan dalam kesendirian. Semua usahaku untuk meyakinkanmu tak berdaya di hadapan kesabaran yang mulai luruh oleh waktu. Pada persimpangan ini yang bisa aku lakukan hanyalah memberimu kebebasan untuk menentukan pilihan.

Persimpangan membuka berbagai kemungkinan, termasuk peluang terjadinya sesuatu yang sama sekali tidak kita harapkan.

Hak memilih yang aku berikan ternyata kamu tangkap sebagai sinyal perpisahan. Kamu yang sedang bimbang pun menganggap aku telah meninggalkanmu. Kemudian kamu berpikir untuk berhenti dan memotong ikatan yang telah kita bangun setahap demi setahap. Bukankah tidak ada yang lebih menyedihkan ketimbang perpisahan yang diakibatkan oleh kesalahpahaman macam ini?

Setelahnya aku hanya dapat merenungi kebodohanku sendiri. Kini hariku di tanah rantau diisi sepi demi sepi. Tanpa hadirnya nada dering telepon darimu. Tanpa ucapan selamat pagi dan gelayut rindu. Semua dosa berada di pundakku dan penyesalan yang menjadi satu paket hadir bersamaan dengan itu.

Mungkin akan berat mengakui ini. Aku dan kamu telah berpisah jalan pada satu persimpangan di belakang. Tetapi aku masih berharap di masa depan aku akan kembali bersimpang jalan denganmu. Merekatkan kembali hubungan yang terlanjur kita sudahi di masa lalu. Melanjutkan perjalanan, berdua. Sebagai kita. Sebagai cinta…

Mercusuar

Aku mengingat sebuah mercusuar ketika hari beranjak petang. Aku membayangkan sebuah mercusuar lengkap beserta langit malam dan gemuruh ombak. Beberapa kapal mendekat, beberapa yang lain hanya lewat. Tetapi semuanya tidak melepaskan komunikasi dengan penjaga mercusuar agar tak tersesat atau bahkan mengalami kecelakaan: karam dan tenggelam. Kau pasti bisa melihatnya, parade cahaya yang sungguh megah di tengah laut, di antara perasaan was-was dan rasa takut.

Mercusuar merupakan isyarat bahwa di dalam gelap selalu ada tempat untuk menyandarkan harap.

Harapan itu, sayangku, mewujud cahaya di puncak bangunan mercusuar. Ia terkadang begitu terangnya hingga menyilaukan mata. Pada kesempatan lain ia tertutupi kabut dan seolah sirna. Tetapi, kau tahu, awak kapal adalah pejuang yang tak kenal putus asa. Mereka tahu bahwa cahaya itu akan tetap menuntun kapal-kapal ke jalannya. Mereka paham bahwa untuk mencapai tujuan, diperlukan sebuah harap sebagai penunjuk jalan.

Dan untuk mencapai tujuan hidup, aku percaya kamu adalah mercusuarku. Bersamamu kaupegang sebuah kompas. Kau selalu tunjukkan arah agar aku tidak hilang. Meski di antara kita terbentang jarak, aku akan selalu menuju ke pelukanmu. Kembali berlabuh ke tepian senyummu, seperti dulu.

Seperti sebelum kita berpisah. Sebelum aku memutuskan pergi berlawanan arah.

Mungkin kini kamu sedang redup, jengah memberi pedoman padaku yang tengah bimbang dalam hidup. Namun aku percaya kamulah mercusuar paling terang. Selalu setia di sana hanya untuk menungguku kembali pulang.

Kepadamu….

aku tahu betul, ketika satu pintu tertutup, masih banyak pintu lain yang terbuka. tapi apa mereka yang omong soal tadi tahu, beberapa pintu tak cukup bagus untuk dimasuki begitu saja?

aku tak bermaksud untuk bermanis kata. ini hanya perkara jujur atau tidak. mau mengakui atau memilih untuk gengsi. nyatanya kalau sudah menyangkut soal hati, berapapun banyak pintu terbuka, bagaimanapun kesempatan serupa mencoba menyapa, diri ini tak bisa tergerak untuk mengambilnya.

ah, aku hampir lupa. beberapa hari yang lalu aku sempat bermimpi tentang kamu. di mimpiku aku sedang berkunjung ke rumahmu. sayangnya orang tuamu yang galaknya minta ampun tak memberikan izin anak gadisnya untuk menemui lelaki yang bukan siapa-siapa. jadilah aku berdiri di halaman rumah hingga mimpiku usai dan aku terbangun dengan badan penuh keringat. aku sempat ingin menceritakan mimpiku. walaupun akhirnya aku memutuskan untuk diam karena aku malu membicarakan ini kepadamu.

aku tak pernah benar-benar percaya kepada ramalan. tapi mungkin mimpiku adalah sebuah pertanda bahwa aku harus menunggumu. iya, aku mau menunggu. tak peduli pada peribahasa pintu.

Semoga Kau Berbahagia

Kudengar kau bicara
Perolehan cinta
:tentang sepotong perasaan gembira
tentang obat dari semua duka                                             
   
Kudengar kau simpan asa
Seperti Sita menanti kijang buruan
Rama
Sambil berdiam kaupanjatkan
doa
Memohon waktu tak berdusta
Memunculkan Rahwana
Membawa pergi segala tawa

Tentu aku menyumbang doa
Padamu
Perempuan yang aku puja
Semoga
kau selalu bahagia

Tapi jika akhirnya patah hati
dan kecewa yang kautemui
Hubungiku saja

Mungkin aku masih ada di tempat yang sama

Ini Adalah Caraku Mengucapkan Selamat Kepadamu

- untuk A yang sedang berada dalam perjalanan menjemput masa depan

 ***

Mungkin kini kamu adalah seorang perempuan di antara banyak perempuan lain yang sedang duduk di dalam bus kota. Lampu kendaraan dimatikan, gelap telah dinyalakan. Sedang kamu mulai menatapi pinggiran kaca yang lembab oleh bekas hujan: tenggelam dalam lamunan. Tenggelam dalam dunia penuh kesendirian.

Aku sungguh penasaran. Apa sebenarnya yang sering kamu pikirkan?

Mungkin kini kamu tengah mengenang masa dulu, menghadirkan kembali hal-hal yang telah terjadi. Sejenak kamu merasa malu, lantas kamu tersenyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Kita tahu, orang datang, orang pergi. Beberapa telah berlalu, beberapa masih tinggal di hati. Beberapa sibuk menorehkan luka, tak sedikit yang menyisakan perasaan bahagia.

Masa lalu selalu membuat manusia gugup ingin mengulangi sambil memperbaiki kekurangannya.

Kamu pasti pernah barang sekali-dua membayangkan apa yang terjadi jika dulu kamu berjalan di jalur yang berbeda. Bisa saja kamu tidak merasa sesedih sekarang. Merasa gelisah di dalam bus yang dingin lagi sunyi; ditemani oleh penyesalan yang menjadi beban dan kerap menghantui. Bisa saja kamu tidak akan merasa bersalah karena telah luput memilih jalan. Bisa saja kamu sedang menenggak kopi hangat kesukaanmu sambil tertawa bersama kawan, keluarga, atau kekasih yang kamu sayangi. Atau, jika dulu kamu memilih jalur yang berbeda, bisa saja sekarang kamu mengalami nasib yang jauh lebih buruk.

Yang kauhadapi kini bukanlah buah dari sebuah pengandaian. Ia adalah kerja keras yang kaubangun setahap demi setahap.

Mungkin kini kamu mulai mengantuk di dalam bus. Perjalanan masih jauh. Seperti juga episode baru hidupmu yang akan kamu mulai. Kelihatannya kamu kelelahan setelah berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan, baik di masa lalu ataupun masa depan. Tentang riuh keriangan pada saat kamu mengenakan toga wisuda. Tentang kecemasan mengenai apa yang akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Tentang bahagia yang terkadang datang dalam potongan-potongan kecil capaianmu. Atau tentang seseorang yang kamu ingin ia hadir dalam masa susah dan senangmu.

Masa kini adalah sebuah proses yang tidak mengenal kata henti. Ia ada untuk menegaskan bahwa masa lalu dan masa depan tidak pernah benar-benar kita miliki.

Seseorang pernah berkata bahwa kita berenang di aliran sungai waktu. Mungkin di masa lalu kamu pernah berada dalam bus yang sama. Dan tidak menutup kemungkinan suatu saat kamu akan kembali berada di dalamnya. Tetapi, seperti air yang mengalir di sungai—yang selalu berubah pada setiap satuan waktu terkecilnya, keadaan yang kamu alami di masa lalu dan di masa depan tak bisa benar-benar sama. Penumpang yang berbeda, supir yang berganti, juga perasaan yang kamu rasakan.

Masa lalu memang sesekali menuntut untuk disesali. Dan masa depan sama sekali tidak akan hadir tanpa ditemani kecemasan. Tapi kamu hanya perlu menikmati saat ini. Saat di mana kamu tengah menikmati kesendirianmu sejenak demi perayaan esok hari.

Dalam hal ini, aku hanya bisa turut berbahagia untukmu. Sesungguhnya kamu pantas mendapatkan apa yang telah menjadi hakmu.

Bonne nuite, mademoiselle. Bon voyage…

Kartu Pos dari Kawan

Saya pikir, kemajuan teknologi dalam satu segi juga bisa berarti mengurangi keintiman komunikasi. Dulu saya biasa menyimpan beberapa pesan singkat yang sangat berkesan di telepon genggam sebagai sarana nostalgia di kemudian hari. Ketika muncul berbagai media komunikasi di ponsel pintar, kebiasaan tersebut perlahan hilang.

Agak sedih sebetulnya informasi-informasi lama yang ingin saya simpan segera terhapus informasi sampah yang makin bertumpuk di aplikasi chat demi sebuah alasan agar tidak tertinggal berita. Sebelum sempat mengenang informasi lama tadi, ia keburu tertimpa jauh dan susah dicari.

Hari ini, di saat badan penat oleh pekerjaan, sebuah kartu pos datang ke meja kerja saya. Mengingatkan kembali bahwa ada hal yang tidak dapat saya cari melalui kecanggihan aplikasi dan ramainya internet. Mengingatkan kembali bahwa terkadang sesuatu yang menyenangkan bisa berasal dari hal-hal kecil, seperti kartu pos yang dikirim oleh seorang kawan tadi.

Terima kasih, Palupi! :)

p.s: bisa nggak kalau p.s. di kartu pos diblur atau dihapus aja?

9gag:

Never complain about the things your parents could not give you

raison d’être

Aku suka membolak-balik halaman buku dengan acak. Kadang, aku kembali pada halaman depan setelah begitu jauh membaca. Kali lain, aku melewatkan banyak halaman tanpa membacanya sama sekali. Menurutku begitulah cara paling asyik untuk menikmati sebuah bacaan.

***

"Kalau begitu, kamu takkan pernah paham apa isi dari halaman yang telah kamu lewatkan."

"Untuk apa? Kita toh tak harus mengetahui setiap detil hal di dunia ini. Bukankah dengan melihat sekilas pun aku bisa menentukan bagian mana yang tak menarik buatku."

"Kamu bodoh. Bagaimana jika kamu kehilangan informasi yang sangat berguna? Mungkin di halaman yang kamu tinggalkan ada peristiwa bersejarah. Atau tanggal dan orang penting yang mengubah dunia. Atau bisa saja sebuah fakta mengejutkan yang belum kamu ketahui sebelumnya."

"Siapa peduli? Aku pikir aku tidak menyesal kehilangan barang satu-dua hal seperti itu. Justru aku lebih suka berulang kali mengulang pada bagian yang menurutku menarik. Dengan begitu aku tak pernah menemukan kebosanan dalam membaca."

Aku menyobek selembar dari buku usang yang sedang kubaca. Lantas kumasukkan ke saku celana.

***

Buatku, kamu adalah halaman terfavorit yang takkan pernah kutinggalkan.

Piknik di taman kota, mencoba menemukan kembali apa yang mulai hilang oleh modernitas. Piknik di taman kota, mencoba menemukan kembali apa yang mulai hilang oleh modernitas. Piknik di taman kota, mencoba menemukan kembali apa yang mulai hilang oleh modernitas.

Piknik di taman kota, mencoba menemukan kembali apa yang mulai hilang oleh modernitas.

“Masa lalu mengajari: bahwa yang sekarang kamu peluk erat, bisa saja kelak bakal berkhianat.”